Kamis, 22 September 2016

Penelitian Kuantitatif

            Metode ini dinamakan dengan metode tradisional, karena metode ini sudah cukup lama digunakan sehingga sudah menjadi mentradisi sebagai metode untuk penelitian. Metode ini disebut dengan sebagai metode positivistic karena berlandaskan pada filsafat positivism. Metode ini juga disebut dengan metode discovery, karena dengan metode ini dapat ditemukan dan dikembangkan berbagai iptek baru.
            Filsafat positivisme memandang realitas/gejala/fenomena itu dapat diklasifikasikan, relative tetap, konkrit, teramati, terukur, dan hubungan gejala bersifat sebab akibat. Proses penelitian bersifat deduktif, di mana untuk menjawab rumusan masalah digunakan konsep atau teori sehingga dapat dirumuskan dengan hipotesis. Hipotesisi tersebut selanjutnya diuji melalui melalui pengumpulan data lapangan. Untuk mengumpulkan data digunakan instrument penelitian. Data yang telah terkumpul selanjutnya dianalisis secara kuantitatif dengan menggunakan statistic deskriptif atau inferensial sehingga dapat disimpulkan hipotesis yang dirumuskan terbukti atau tidak. Penelitian ini, pada umumnya dilakukan pada sampel yang diambil secara random, sehingga kesimpulan hasil penelitian dapat digeneralisasikan pada populasi di mana sampel tersebut diambil.[1]


Ali Mohammad dan Asrori Muhammad. 2014. Metodologi dan aplikasi Riset Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara
            Hlm 290-
            Data kuantitatif disebut juga data keras diperoleh melalui riset yang menggunakan pendekatan kuantitatif. Bentuk data keras adalah bilangan atau angka-angka, baik diperoleh dari jumlah ssuatu penggabunggan ataupun pengukuran. Data kuantitatif yang diperloeh dari jumlah suatu penggabungan selalu menggunakan bilangan cacah. Contoh data seperti ini adalah angka-angka hasil sensus, angka-angka hasil tabulasi terhadap jawaban atau terhadap wawancara terstruktur. Selain itu, data bermuatan hasl pengukuran adalah skor-skor yang diperoleh melalui pengukuran seperti angka hasil mengukur atau menimbang, skor , skor skala rating dan skor jenis-jenis skala lainnya, dan skor tes.
1.      Skala pengukuran
Data hasil pengukuran atau data statistika yang berupa bilangan atau angka, baik berupa skor hasil pengukuran maupun jumlah gabungan, dalam konteks analisis yang menggunakan metode-metode statistika di sebut juga. Dengan variable pengukuran. Berdasarkan ciri-ciri atau sifatnya, variable pengukuran dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu diskrit dan kontinyu. Variabel pengukuran yang bersifat diskrit merupakan jumlah dari berbagai kategori. Variable pengukuran ini disebut juga dengan variable kategori, yang keberadaannya ditandai oleh adanya perbedaan yang tegas antara suatu bilangan dengan bilangan lain.
Pengujian apakah suatu variable itu termasuk diskrit, adapat dilakukan dengan menempatkan setiap bilangan pada skala bilangan. Apabila antara satu bilangan dan bilangan lain pada skala itu tidak bisa ditempatkan bilangan rasioonal atau decimal maka variable itu termasuk diskrit. Contohnya adalah jumlah pemilih wanita dan pria pada pemilihan umum. Karena bilangan-bilangan yang diahsilkan itu merupakan jumlah kategori, kita tidak bisa menempatkan bilangan decimal untuk menunjukkan jumlah kategori itu.
Berbveda dari variable pengukuran yang bersifat diskrit adalah variable yang bersifat kontinyu biasanya berupa skor-skor hasil pengukuran. Variable semacam ini mempunyai ciri dengan adanya kesiinambungan anatara suatu bilangan dengan bilangan lain. Contohnya adalah, variable skor tes, dalam skor tes, bilangan yang digunakan bisa berupa bilangan bulat, atau bilangan rasional atau decimal.
2.      Jenis-jenis Skala
Variable pengukuran dapat dibedakan ke dalam empat macam skala, yaitu skala nominal, skala ordinal, skala interval dan skala rasio.
Skala nominal. Berupa bilangan-bilangan yang diperoleh dari jumlah gabungan, kumpulan,, atau kategori. Contoh, jumlah barang atau benda yang terbuat dari kayu di suatu ruangan, jumlah penduduk laki-laki dan perempuan disuatu dareah, atau jumlah responden kuesioner atau wawancara yang menjawab ‘’ya’’ dan yang menjawab ‘’tidak’’.
Skala ordinal. Bilangan-bilangan yang menggambarkan peringkat (Irunk) atau urutan susunan ( order). Bersifat relative apada kelomponya masing-masing, panjang rentangan antara skala yang satu dengan skala yang lain tidak mesti sama karena bilangan tersebut hanya menggambarkan peringkat semata-mata dan sedikit lebih komplesk dari variable berskala nominal.
     
           



[1] Sugiyono, 2012. Metode Penelitian Pendidikan, Bandung: Alfabeta Bandung, hlm.13