Metode ini dinamakan dengan metode
tradisional, karena metode ini sudah cukup lama digunakan sehingga sudah
menjadi mentradisi sebagai metode untuk penelitian. Metode ini disebut dengan
sebagai metode positivistic karena berlandaskan pada filsafat positivism.
Metode ini juga disebut dengan metode discovery, karena dengan metode ini dapat
ditemukan dan dikembangkan berbagai iptek baru.
Filsafat positivisme memandang
realitas/gejala/fenomena itu dapat diklasifikasikan, relative tetap, konkrit,
teramati, terukur, dan hubungan gejala bersifat sebab akibat. Proses penelitian
bersifat deduktif, di mana untuk menjawab rumusan masalah digunakan konsep atau
teori sehingga dapat dirumuskan dengan hipotesis. Hipotesisi tersebut
selanjutnya diuji melalui melalui pengumpulan data lapangan. Untuk mengumpulkan
data digunakan instrument penelitian. Data yang telah terkumpul selanjutnya
dianalisis secara kuantitatif dengan menggunakan statistic deskriptif atau
inferensial sehingga dapat disimpulkan hipotesis yang dirumuskan terbukti atau
tidak. Penelitian ini, pada umumnya dilakukan pada sampel yang diambil secara
random, sehingga kesimpulan hasil penelitian dapat digeneralisasikan pada
populasi di mana sampel tersebut diambil.[1]
Ali
Mohammad dan Asrori Muhammad. 2014. Metodologi dan aplikasi Riset Pendidikan.
Jakarta: Bumi Aksara
Hlm 290-
Data kuantitatif disebut juga data
keras diperoleh melalui riset yang menggunakan pendekatan kuantitatif.
Bentuk data keras adalah bilangan atau angka-angka, baik diperoleh dari jumlah
ssuatu penggabunggan ataupun pengukuran. Data kuantitatif yang diperloeh dari
jumlah suatu penggabungan selalu menggunakan bilangan cacah. Contoh data
seperti ini adalah angka-angka hasil sensus, angka-angka hasil tabulasi
terhadap jawaban atau terhadap wawancara terstruktur. Selain itu, data
bermuatan hasl pengukuran adalah skor-skor yang diperoleh melalui pengukuran
seperti angka hasil mengukur atau menimbang, skor , skor skala rating dan
skor jenis-jenis skala lainnya, dan skor tes.
1.
Skala
pengukuran
Data hasil pengukuran atau data
statistika yang berupa bilangan atau angka, baik berupa skor hasil pengukuran
maupun jumlah gabungan, dalam konteks analisis yang menggunakan metode-metode
statistika di sebut juga. Dengan variable pengukuran. Berdasarkan ciri-ciri
atau sifatnya, variable pengukuran dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu
diskrit dan kontinyu. Variabel pengukuran yang bersifat diskrit merupakan
jumlah dari berbagai kategori. Variable pengukuran ini disebut juga dengan variable
kategori, yang keberadaannya ditandai oleh adanya perbedaan yang tegas
antara suatu bilangan dengan bilangan lain.
Pengujian apakah suatu variable itu
termasuk diskrit, adapat dilakukan dengan menempatkan setiap bilangan pada
skala bilangan. Apabila antara satu bilangan dan bilangan lain pada skala itu
tidak bisa ditempatkan bilangan rasioonal atau decimal maka variable itu
termasuk diskrit. Contohnya adalah jumlah pemilih wanita dan pria pada
pemilihan umum. Karena bilangan-bilangan yang diahsilkan itu merupakan jumlah
kategori, kita tidak bisa menempatkan bilangan decimal untuk menunjukkan jumlah
kategori itu.
Berbveda dari variable pengukuran
yang bersifat diskrit adalah variable yang bersifat kontinyu biasanya berupa
skor-skor hasil pengukuran. Variable semacam ini mempunyai ciri dengan adanya
kesiinambungan anatara suatu bilangan dengan bilangan lain. Contohnya adalah,
variable skor tes, dalam skor tes, bilangan yang digunakan bisa berupa bilangan
bulat, atau bilangan rasional atau decimal.
2.
Jenis-jenis
Skala
Variable pengukuran dapat dibedakan
ke dalam empat macam skala, yaitu skala nominal, skala ordinal, skala interval
dan skala rasio.
Skala nominal. Berupa
bilangan-bilangan yang diperoleh dari jumlah gabungan, kumpulan,, atau
kategori. Contoh, jumlah barang atau benda yang terbuat dari kayu di suatu
ruangan, jumlah penduduk laki-laki dan perempuan disuatu dareah, atau jumlah
responden kuesioner atau wawancara yang menjawab ‘’ya’’ dan yang menjawab
‘’tidak’’.
Skala ordinal. Bilangan-bilangan
yang menggambarkan peringkat (Irunk) atau urutan susunan ( order).
Bersifat relative apada kelomponya masing-masing, panjang rentangan antara
skala yang satu dengan skala yang lain tidak mesti sama karena bilangan
tersebut hanya menggambarkan peringkat semata-mata dan sedikit lebih komplesk
dari variable berskala nominal.